Gencatan Senjata Iran-Israel, Fokus Kembali ke Gaza

- Jurnalis

Rabu, 25 Juni 2025 - 14:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perang selama 12 hari antara Iran dan Israel resmi berakhir dengan gencatan senjata yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Senin,

Perang selama 12 hari antara Iran dan Israel resmi berakhir dengan gencatan senjata yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Senin,

JAKARTA, koranmetro.com – Perang selama 12 hari antara Iran dan Israel resmi berakhir dengan gencatan senjata yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Senin, 23 Juni 2025. Konflik yang memanas sejak 13 Juni 2025 ini ditandai dengan serangan udara Israel terhadap fasilitas nuklir Iran, yang dibalas dengan peluncuran rudal balistik, rudal hipersonik Haj Qassem, dan drone Shahed oleh Iran. Kedua negara saling klaim kemenangan, sementara dunia menyambut gencatan senjata dengan optimisme hati-hati.

Kronologi Perang 12 Hari

Konflik dimulai ketika Israel melancarkan operasi militer bernama Operasi Rising Lion, menyerang lebih dari 100 lokasi strategis di Iran, termasuk fasilitas nuklir di Natanz, Isfahan, dan Fordow. Israel berdalih bahwa serangan ini merupakan tindakan pencegahan terhadap ancaman nuklir Iran. Iran membalas dengan operasi True Promise 3, meluncurkan sekitar 100 rudal balistik ke target militer Israel, meskipun sebagian besar dihalau oleh sistem pertahanan udara Iron Dome.

Menurut laporan, Iran kehilangan 610 warga sipil, sementara Israel melaporkan 24 korban jiwa. Serangan terakhir terjadi pada 23 Juni, ketika Iran menargetkan pangkalan militer AS di Al Udeid, Qatar, sebagai respons atas serangan AS ke fasilitas nuklir Iran. Meski sempat terjadi tuduhan pelanggaran gencatan senjata, kedua pihak akhirnya menahan diri, dan perang dinyatakan berakhir pada 24 Juni 2025.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyebut gencatan senjata sebagai hasil dari “perlawanan heroik” rakyat Iran, menegaskan bahwa Teheran tidak akan melanggar kesepakatan kecuali Israel memprovokasi. Sementara itu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengklaim Israel telah mencapai semua tujuan militernya, termasuk menunda program nuklir dan rudal Iran selama bertahun-tahun.

Baca Juga :  Wajah Benjamin Franklin di 100 Dolar AS yang Mau Diubah Trump

Fokus Kembali ke Gaza

Setelah gencatan senjata, Israel mengalihkan perhatiannya kembali ke konflik di Gaza. Militer Israel menyatakan fokus utama kini adalah membebaskan 49 sandera yang masih ditahan oleh Hamas sejak serangan Oktober 2023, serta membubarkan struktur kepemimpinan kelompok tersebut. Kepala Staf Militer Israel, Eyal Zamir, menegaskan, “Sekarang fokus beralih kembali ke Gaza—untuk membawa pulang para sandera dan membubarkan rezim Hamas.”

Namun, situasi di Gaza langsung memanas pasca-gencatan senjata. Menurut laporan medis setempat, serangan Israel di Gaza pada 24 Juni menewaskan sedikitnya 40 warga Palestina, disertai dengan perintah evakuasi baru. Forum Sandera dan Keluarga Hilang di Israel mendesak pemerintah Netanyahu untuk segera menegosiasikan gencatan senjata di Gaza, dengan menyatakan, “Mereka yang dapat mencapai gencatan senjata dengan Iran juga bisa mengakhiri perang di Gaza.”

Qatar, sebagai mediator utama antara Israel dan Hamas, berupaya melanjutkan pembicaraan gencatan senjata. Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, mengatakan, “Kami masih melanjutkan upaya kami, dan semoga dalam dua hari ke depan kami dapat menemukan peluang untuk negosiasi tidak langsung antara kedua pihak.”

Respons Internasional

Komunitas internasional menyambut gencatan senjata dengan harapan konflik tidak kembali memanas. Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mendesak kedua pihak untuk menghormati kesepakatan, seraya menyerukan gencatan senjata serupa di Gaza. Arab Saudi dan Uni Eropa menyatakan dukungan, sementara Rusia dan China menekankan pentingnya stabilitas regional. Presiden Prancis, Emmanuel Macron, memperingatkan risiko Iran memperkaya uranium secara diam-diam pasca-serangan terhadap fasilitas nuklirnya.

Di sisi lain, analis meragukan klaim AS dan Israel bahwa serangan mereka telah menghancurkan kapasitas nuklir Iran. Intelijen AS menyebut serangan hanya merusak pintu masuk fasilitas nuklir, menunjukkan Iran mungkin masih menyimpan sebagian besar kemampuan nuklirnya.

Baca Juga :  Teheran Bangkit, Kisah Kehidupan Warga Pasca-Perang Iran-Israel

Dampak dan Tantangan ke Depan

Perang 12 hari ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, tetapi juga memperburuk ketegangan di Timur Tengah. Serangan Iran ke pangkalan AS di Qatar memicu kekhawatiran akan eskalasi lebih luas, sementara keterlibatan AS meningkatkan risiko konflik regional. Penutupan wilayah udara oleh negara-negara Teluk seperti Irak, Bahrain, dan Kuwait mengganggu lalu lintas penerbangan dan ekonomi global.

Di Gaza, tantangan kemanusiaan semakin berat dengan korban sipil yang terus bertambah. Gencatan senjata dengan Iran memberi Israel ruang untuk mengintensifkan operasi di Gaza, tetapi tekanan internasional untuk mengakhiri kekerasan di wilayah tersebut juga meningkat. Diplomasi Qatar dan upaya negosiasi menjadi kunci untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.

Konflik ini juga memunculkan pertanyaan tentang masa depan hubungan Iran-Israel. Meski gencatan senjata telah disepakati, permusuhan yang telah berlangsung sejak Revolusi Islam Iran 1979 menunjukkan bahwa perdamaian jangka panjang masih jauh dari kenyataan. Iran tetap menegaskan haknya atas program nuklir untuk tujuan damai, sementara Israel terus memandangnya sebagai ancaman eksistensial.

Gencatan senjata antara Iran dan Israel menandai akhir dari perang 12 hari yang penuh ketegangan, tetapi tidak menyelesaikan akar konflik di Timur Tengah. Dengan fokus Israel kembali ke Gaza, dunia kini menanti apakah diplomasi dapat membawa solusi bagi krisis kemanusiaan di wilayah tersebut. Stabilitas regional tetap rapuh, dan kerja sama internasional diperlukan untuk mencegah konflik serupa di masa depan.

Berita Terkait

Francisco ‘Lu Olo’ Guterres, Mantan Presiden Timor Leste, Meninggal Dunia
Delegasi AS dan Iran Mulai Pembicaraan Baru di Swiss Hari Ini
Brasil Bekuk Haiti 3-0, Selecao Kembali Jadi Tim Pencetak Gol Terbanyak Sepanjang Sejarah Piala Dunia
Tegangan Memuncak di Selat Inggris, Kapal Perang Rusia Tembak Peringatan ke Kapal Layar Inggris
Bangkit Dua Kali dari Ketertinggalan, Iran Imbang 2-2 Lawan Selandia Baru di Laga Pembuka Piala Dunia 2026
Dari Triliuner hingga Bayang-Bayang Perang Dingin, Dua Isu Global yang Mengguncang Dunia
Klasemen Grup D Piala Dunia 2026, AS Unggul Setelah Hajar Paraguay 4-1
Iran Serang Balik Pangkalan AS di Yordania, Fasilitas F-35 Dilaporkan Rusak Berat
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 23 Juni 2026 - 11:24 WIB

Francisco ‘Lu Olo’ Guterres, Mantan Presiden Timor Leste, Meninggal Dunia

Sabtu, 20 Juni 2026 - 11:29 WIB

Brasil Bekuk Haiti 3-0, Selecao Kembali Jadi Tim Pencetak Gol Terbanyak Sepanjang Sejarah Piala Dunia

Rabu, 17 Juni 2026 - 13:16 WIB

Tegangan Memuncak di Selat Inggris, Kapal Perang Rusia Tembak Peringatan ke Kapal Layar Inggris

Selasa, 16 Juni 2026 - 11:40 WIB

Bangkit Dua Kali dari Ketertinggalan, Iran Imbang 2-2 Lawan Selandia Baru di Laga Pembuka Piala Dunia 2026

Minggu, 14 Juni 2026 - 11:24 WIB

Dari Triliuner hingga Bayang-Bayang Perang Dingin, Dua Isu Global yang Mengguncang Dunia

Berita Terbaru