Rencana Gulingkan Teheran yang Berbalik Menghantam Washington, Boomerang Geopolitik di Tengah Konflik AS-Iran

- Jurnalis

Rabu, 18 Maret 2026 - 11:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Di awal Maret 2026, Washington di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump melancarkan operasi militer besar-besaran terhadap Iran,

Di awal Maret 2026, Washington di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump melancarkan operasi militer besar-besaran terhadap Iran,

JAKARTA, koranmetro.com – Di awal Maret 2026, Washington di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump melancarkan operasi militer besar-besaran terhadap Iran, dengan tujuan utama menghancurkan kemampuan nuklir, rudal, dan infrastruktur militer Teheran. Banyak analis dan pejabat AS awalnya yakin bahwa serangan udara intensif—dibantu Israel—akan memicu keruntuhan rezim Republik Islam dalam waktu singkat, mirip narasi “regime change” cepat seperti yang pernah diimpikan di Irak atau Libya. Namun, realitas di lapangan justru berbalik: rencana menjatuhkan Teheran malah menjadi bumerang yang mengguncang posisi Amerika Serikat sendiri, baik secara militer, ekonomi, maupun politik.

Awal yang Penuh Keyakinan

Operasi yang disebut-sebut sebagai “Epic Fury” atau serangan pre-emptive dimulai dengan penghancuran ratusan target strategis di Iran dalam hitungan hari. Trump dan timnya mengklaim keberhasilan cepat: sekitar 60-64% peluncur rudal dan drone Iran dimusnahkan, angkatan laut kehilangan puluhan kapal, dan fasilitas nuklir rusak parah. Prediksi internal AS bahkan menyebut perang bisa selesai dalam beberapa minggu, dengan harapan rezim Teheran runtuh akibat tekanan internal dan hilangnya dukungan militer.

Tujuan tersiratnya jelas: regime change tanpa invasi darat penuh, cukup dengan serangan udara masif untuk memaksa perubahan kekuasaan atau setidaknya menekan Iran kembali ke meja negosiasi dengan syarat Washington.

Realitas yang Berbalik

Namun, Iran tidak runtuh seperti yang diharapkan. Sebaliknya, Teheran menunjukkan ketahanan luar biasa:

  • Perlawanan berkepanjangan: Iran memperluas target balasan ke pangkalan AS di Timur Tengah, fasilitas Israel, dan bahkan mengancam daratan AS melalui proxy atau serangan siber. Beberapa laporan menyebut korban jiwa tentara AS mencapai ratusan, termasuk serangan drone di Kuwait dan Irak.
  • Penutupan Selat Hormuz: Langkah ini langsung mengganggu 20-30% pasokan minyak dunia, menyebabkan lonjakan harga energi global yang memukul ekonomi AS dan sekutunya.
  • Solidaritas internal: Serangan justru memperkuat rezim di dalam negeri. Masyarakat Iran menutup barisan di bawah tekanan eksternal, bukan malah memberontak seperti yang diimpikan Washington.
  • Dukungan eksternal: Rusia dan China semakin mendukung Iran secara diplomatik dan mungkin material, melihat konflik ini sebagai peluang melemahkan hegemoni AS.
Baca Juga :  Menteri Israel Terpecah Voting Gencatan Senjata, Netanyahu Tertekan

Akibatnya, perang yang direncanakan singkat malah berlarut-larut. Stok amunisi AS terkuras cepat, biaya militer membengkak, dan tekanan domestik di AS meningkat—terutama dari basis pendukung Trump yang kecewa dengan “perang tanpa akhir” yang menguras sumber daya.

Analisis Para Pakar: Mengapa Boomerang Ini Terjadi?

Banyak pengamat menyebut ini sebagai “Washington’s Iran gamble is already backfiring”:

  • Strategi AS terlalu bergantung pada asumsi keruntuhan cepat, tanpa rencana cadangan jika Iran bertahan.
  • Iran belajar dari konflik sebelumnya (seperti “12-day war” tahun lalu) dan kali ini sengaja memperpanjang perang untuk menimbulkan biaya nyata bagi AS—korban jiwa, inflasi energi, dan kelelahan politik.
  • Tidak ada “exit strategy” yang jelas: apa arti kemenangan? Rezim change gagal, dan perang berkepanjangan justru menguntungkan lawan-lawan AS seperti Rusia dan China yang memanfaatkan kekacauan regional.
Baca Juga :  2 Juta Warga di Gaza Kelaparan Imbas Kebrutalan Israel

Seperti ditulis di salah satu analisis, “The regime survived. It hardened. And the lesson every adversary is drawing… is to make the war economically painful enough, hold your ground, and wait the US out.”

Dampak Jangka Panjang bagi Washington

Konflik ini bukan hanya soal militer, tapi juga politik domestik. Kritik terhadap Trump meningkat, bahkan dari kalangan MAGA yang khawatir perang ini mengalihkan fokus dari agenda “America First”. Harga minyak melonjak, inflasi naik, dan kredibilitas AS di mata sekutu merosot—beberapa negara Teluk bahkan enggan bergabung dalam koalisi penuh.

Di sisi lain, Iran—meski menderita kerusakan besar—mendapat simpati sebagai korban agresi, dan posisinya di “poros perlawanan” semakin kuat.

Rencana menjatuhkan Teheran yang digadang-gadang sebagai pukulan telak bagi musuh AS justru menjadi pukulan balik bagi Washington sendiri: perang yang mahal, tanpa kemenangan jelas, dan berpotensi mengubah lanskap geopolitik global dengan melemahkan posisi Amerika.

Apakah ini akhir dari era intervensi semacam ini, atau justru awal eskalasi lebih besar? Waktu yang akan menjawab, tapi satu hal pasti: boomerang geopolitik ini telah mengajarkan pelajaran mahal bagi siapa pun yang meremehkan ketahanan lawan.

Berita Terkait

AS Perberat Tekanan Ekonomi dan Blokade Laut terhadap Iran, Bukan Perluas Serangan Militer
Operasi Rahasia Trump Ganti Pesawat di Turki Picu Kontroversi di AS
Cristiano Ronaldo dan Georgina Rodriguez Resmi Menikah setelah Satu Dekade Bersama
Media Italia Soroti Kekalahan Telak 0-3 AC Milan dari Chelsea di Jakarta
Marine One Trump Hampir Langgar Jarak Aman dengan Jet Komersial di Washington, Prosedur Pasca-Tragedi 2025 Dipertanyakan
Kekeringan Sungai Danube Ungkap Bangkai Kapal Perang Nazi dan Fosil Mamut
Hamas Sepakat Serahkan Senjata Berat di Gaza, Sementara Warga AS Nilai Perang Iran Tak Sebanding
Gempa M 7,1 Guncang Kumamoto, Ledakan di Aeon Mall Picu Kepanikan, Sejumlah Orang Terjebak
Berita ini 42 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 11:06 WIB

AS Perberat Tekanan Ekonomi dan Blokade Laut terhadap Iran, Bukan Perluas Serangan Militer

Kamis, 13 Agustus 2026 - 10:56 WIB

Operasi Rahasia Trump Ganti Pesawat di Turki Picu Kontroversi di AS

Rabu, 12 Agustus 2026 - 11:15 WIB

Cristiano Ronaldo dan Georgina Rodriguez Resmi Menikah setelah Satu Dekade Bersama

Minggu, 9 Agustus 2026 - 11:26 WIB

Media Italia Soroti Kekalahan Telak 0-3 AC Milan dari Chelsea di Jakarta

Kamis, 6 Agustus 2026 - 10:53 WIB

Marine One Trump Hampir Langgar Jarak Aman dengan Jet Komersial di Washington, Prosedur Pasca-Tragedi 2025 Dipertanyakan

Berita Terbaru

Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian Irfani meminta pemerintah memberi perhatian serius terhadap ratusan sekolah yang rusak akibat gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).

NASIONAL

DPR Desak Percepatan Pemulihan Sekolah Terdampak Gempa Flores

Selasa, 18 Agu 2026 - 10:54 WIB

Banyak pendaki masih menganggap kacamata sekadar pelengkap penampilan. Padahal, di jalur pendakian,

LIFE STYLE & ENTERTAINMENT

Mengapa Kacamata Wajib Dibawa saat Mendaki, Bukan Hanya Soal Gaya

Senin, 17 Agu 2026 - 11:08 WIB