Sorotan Global, Jet Tempur Iran dan Denda ART Rp 164 Juta di Singapura

- Jurnalis

Kamis, 28 Agustus 2025 - 13:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Angkatan udara Iran menjadi sorotan karena armada jet tempurnya yang beragam, banyak di antaranya masih beroperasi meski sudah tua.

Angkatan udara Iran menjadi sorotan karena armada jet tempurnya yang beragam, banyak di antaranya masih beroperasi meski sudah tua.

JAKARTA, koranmetro.com – Angkatan udara Iran menjadi sorotan karena armada jet tempurnya yang beragam, banyak di antaranya masih beroperasi meski sudah tua. Inventaris Iran mencakup jet buatan Amerika seperti F-5, F-14 Tomcat, dan F-4 Phantom II, serta jet Rusia seperti MiG-29 dan Sukhoi. Iran juga mengembangkan pesawat sendiri, seperti Saeqeh dan Kowsar, sebagai respons terhadap sanksi internasional yang membatasi akses ke teknologi modern dan suku cadang. Pada tahun 2025, Iran menarik perhatian dengan mengakuisisi 40 jet Chengdu J-10C dari Tiongkok, langkah untuk memperkuat kemampuan udaranya dengan jet generasi 4.5 yang dilengkapi radar AESA dan sistem fly-by-wire digital. Dengan harga sekitar US$50-90 juta per unit, jet ini menunjukkan niat Iran untuk memodernisasi angkatan udaranya di tengah ketegangan regional. Namun, ketergantungan pada model lama seperti F-5, yang menyebabkan kematian seorang pilot pada 2021 akibat tantangan perawatan, menggarisbawahi keterbatasan akibat sanksi. Dengan sekitar 200 jet, angkatan udara Iran tetap menjadi kekuatan signifikan di kawasan, menyeimbangkan teknologi impor dengan inovasi lokal.

Baca Juga :  5 Negara dengan Kabinet Obesitas, Fenomena Peningkatan Berat Badan di Lingkungan Pemerintahan

Tindakan Tegas Singapura terhadap Pekerjaan Sampingan Ilegal Pekerja Migran

Di sisi lain, sebuah kasus di Singapura menyoroti peraturan ketat negara itu terhadap pekerja migran. Seorang asisten rumah tangga (ART) asal Filipina berusia 53 tahun, Pido Erlinda Ocampo, didenda S$13.000 (sekitar Rp 164 juta) karena bekerja paruh waktu secara ilegal tanpa izin yang sah. Majikannya, Soh Oi Bek, warga Singapura berusia 64 tahun, juga didenda S$7.000 (sekitar Rp 88 juta) karena mempekerjakannya tanpa otorisasi. Kasus ini, yang terungkap pada Desember 2024, melibatkan Erlinda yang bekerja paruh waktu untuk Soh dan majikan lain, menghasilkan S$375-450 per bulan per pekerjaan. Kementerian Tenaga Kerja Singapura (MOM) menyelidiki pelanggaran ini berdasarkan Undang-Undang Ketenagakerjaan Tenaga Asing, menegaskan sikap tegas Singapura terhadap pekerjaan tanpa izin. Denda yang telah dibayar penuh oleh kedua pihak mencerminkan komitmen Singapura untuk menegakkan hukum ketenagakerjaan, dengan potensi hukuman untuk pelanggaran semacam ini termasuk penjara hingga dua tahun atau denda hingga S$20.000 untuk pekerja, serta penjara hingga 12 bulan atau denda hingga S$30.000 untuk majikan. Kasus ini menggarisbawahi tantangan yang dihadapi pekerja migran dalam sistem ketenagakerjaan Singapura yang diatur ketat.

Baca Juga :  Sebuah Pesawat Cessna 207 Jatuh di Hutan Meksiko, 7 Orang Tewas

Dari upaya strategis Iran untuk memodernisasi angkatan udaranya hingga penegakan hukum ketat Singapura terhadap pekerja migran, kedua kisah ini mencerminkan tema yang lebih luas tentang keamanan nasional dan pengawasan regulasi. Akuisisi jet canggih oleh Iran menunjukkan tekadnya untuk mempertahankan pengaruh regional, sementara denda besar di Singapura menjadi pengingat akan tingginya risiko yang dihadapi pekerja migran dalam kerangka hukum yang ketat. Kedua kasus ini menyoroti kompleksitas dalam menyeimbangkan modernisasi, kepatuhan, dan tekanan global di dunia yang saling terhubung saat ini.

Berita Terkait

Ancelotti Apresiasi Talenta Muda Brasil Usai Kemenangan Telak 4-0 atas India
AS Kerahkan Kapal Induk Ketiga ke Timur Tengah di Tengah Ketegangan dengan Iran
Insiden di Kokpit Flydubai, Pilot Ditikam, Pesawat Anjlok Tajam, dan Pendaratan Darurat di Arab Saudi
Haru Menyambut Kebebasan Mary Jane Veloso, “Akhirnya Kami Bisa Bersama Mama”
Dari Musuh Politik ke Pujian, Trump Sebut Zohran Mamdani Berpotensi Jadi Wali Kota Hebat
Jepang Tawarkan Bantuan Perbaiki Pelabuhan Natuna, China Langsung Angkat Bicara
Putri Astrid Meninggal di Usia 94 Tahun, Tak Lama Setelah Pemakaman Raja Harald V
Eskalasi Konflik Timur Tengah, Houthi Serang Arab Saudi, AS Hancurkan Tanker Minyak Iran
Berita ini 30 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 4 Oktober 2026 - 11:44 WIB

Ancelotti Apresiasi Talenta Muda Brasil Usai Kemenangan Telak 4-0 atas India

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 11:31 WIB

AS Kerahkan Kapal Induk Ketiga ke Timur Tengah di Tengah Ketegangan dengan Iran

Kamis, 1 Oktober 2026 - 11:38 WIB

Insiden di Kokpit Flydubai, Pilot Ditikam, Pesawat Anjlok Tajam, dan Pendaratan Darurat di Arab Saudi

Minggu, 27 September 2026 - 12:03 WIB

Haru Menyambut Kebebasan Mary Jane Veloso, “Akhirnya Kami Bisa Bersama Mama”

Selasa, 22 September 2026 - 11:01 WIB

Dari Musuh Politik ke Pujian, Trump Sebut Zohran Mamdani Berpotensi Jadi Wali Kota Hebat

Berita Terbaru