Telkomsel Waspada Gelembung AI, Strategi Investasi yang Lebih Bijak dan Terukur

- Jurnalis

Jumat, 19 Desember 2025 - 11:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA, koranmetro.com – Di tengah euforia global terhadap kecerdasan buatan (AI), kekhawatiran akan terjadinya “AI Bubble” semakin mengemuka. Fenomena ini merujuk pada lonjakan investasi dan ekspektasi yang berlebihan terhadap AI, yang berpotensi tidak seimbang dengan manfaat nyata atau monetisasi jangka panjang. Mirip dengan gelembung dot-com atau startup digital di masa lalu, AI Bubble bisa meledak jika investasi agresif tidak diimbangi dengan pengembalian yang jelas.

Namun, PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) memilih pendekatan yang berbeda. Direktur Utama Telkomsel, Nugroho, menegaskan bahwa perusahaan tidak akan terjebak dalam fear of missing out (FOMO). “Ini adalah permainan balancing antara investasi dan monetisasi. Perhitungannya harus matang. Early investment too big bisa jadi korban bubble,” ujarnya baru-baru ini, usai peresmian AI Innovation Hub di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 16 Desember 2025.

Mengapa AI Bubble Menjadi Ancaman Nyata?

AI Bubble muncul ketika perusahaan berlomba-lomba menggelontorkan dana besar untuk infrastruktur AI, seperti pembelian chip komputasi mahal atau pembangunan data center raksasa, tanpa perhitungan ROI (return on investment) yang matang. Teknologi AI berkembang sangat cepat—model baru bisa membuat perangkat keras lama menjadi usang dalam waktu singkat. Contohnya, munculnya model AI murah dari perusahaan seperti DeepSeek dari China telah mengacaukan perhitungan bisnis banyak pemain global.

Baca Juga :  Mengenal Chromebook dan Perbedaannya dengan Laptop Windows

Di Indonesia, meski tren AI positif, Nugroho menilai iklim investasi masih lebih terkendali dibandingkan luar negeri. “Mungkin karena trauma dari bubble startup digital baru-baru ini, pelaku usaha lebih trauma dan hati-hati,” katanya. Pengalaman masa lalu, seperti bubble 3G di sektor telekomunikasi, menjadi pelajaran berharga bagi Telkomsel untuk tidak jor-joran tanpa strategi jelas.

Strategi Telkomsel: Hati-Hati, Kolaboratif, dan Berbasis Kebutuhan

Telkomsel memprioritaskan keseimbangan. Alih-alih investasi besar di awal untuk perangkat mahal seperti chip Nvidia yang antreannya bisa mencapai dua tahun, perusahaan memilih pendekatan terukur:

  • Kolaborasi dengan mitra: Termasuk pemanfaatan cloud computing untuk fleksibilitas lebih tinggi.
  • Use case driven: Implementasi AI hanya untuk kebutuhan nyata, seperti jaringan otonom (autonomous network) yang sudah diakui secara global, sistem deteksi scam bernama Siscamling, dan program edukasi AI seperti Sacred Octagon.
  • Fokus internal dulu: Adopsi AI untuk efisiensi operasional sebelum ekspansi komersial besar.
Baca Juga :  Resmi Dirilis! Poco X7 dan X7 Pro, Rebranding dari Dua Ponsel Redmi yang Menarik Perhatian

Langkah konkret terbaru adalah peresmian AI Innovation Hub di ITB, kolaborasi dengan akademisi dan pemerintah untuk memperkuat ekosistem AI nasional. Ini sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045, di mana Telkomsel berkontribusi tanpa mengabaikan risiko.

Nugroho menekankan, AI bukan teknologi yang bisa dihindari—ia adalah masa depan. “Yang penting bagaimana kita mengelola investasi dan adopsi AI secara rasional,” tambahnya. Dengan demikian, Telkomsel tidak hanya menghindari jebakan bubble, tapi juga memposisikan diri sebagai pemimpin transformasi digital yang berkelanjutan di Indonesia.

Di era di mana banyak perusahaan global terburu-buru, sikap cermat Telkomsel ini bisa menjadi contoh bagi industri tanah air: Inovasi ya, tapi dengan kalkulasi yang matang.

Berita Terkait

ONIC Esports Kokoh di Puncak, RRQ Hoshi Resmi Gagal ke Playoff MPL ID S17
Meta Luncurkan AI yang Lebih Personal, Bukan Sekadar Chatbot, tapi “Superintelligence” yang Mirip Pengguna Asli
Grok-4.20 dan GPT-5.4 Pro, Model AI dengan Skor IQ Tertinggi di 2026, Bukan ChatGPT Biasa
Samsung Rebut Kembali Tahta Pasar Ponsel Global di Awal 2026 Menurut Omdia
Motorola Moto G37 Resmi Diluncurkan, HP 5G Murah yang Masih Setia dengan Jack Audio 3,5 mm
Sony Naikkan Harga Resmi PS5 di Indonesia Mulai 1 Mei 2026, Tembus Rp 11,4 Juta
WhatsApp Siapkan Fitur Berbayar, Apa Saja Keunggulan dan Kisaran Biayanya?
Gelombang Kekurangan CPU Intel-AMD, PC dan Server Terancam Krisis Pasokan Baru di 2026
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 11 Mei 2026 - 11:22 WIB

ONIC Esports Kokoh di Puncak, RRQ Hoshi Resmi Gagal ke Playoff MPL ID S17

Jumat, 8 Mei 2026 - 11:18 WIB

Meta Luncurkan AI yang Lebih Personal, Bukan Sekadar Chatbot, tapi “Superintelligence” yang Mirip Pengguna Asli

Rabu, 6 Mei 2026 - 11:26 WIB

Grok-4.20 dan GPT-5.4 Pro, Model AI dengan Skor IQ Tertinggi di 2026, Bukan ChatGPT Biasa

Minggu, 3 Mei 2026 - 11:13 WIB

Samsung Rebut Kembali Tahta Pasar Ponsel Global di Awal 2026 Menurut Omdia

Kamis, 30 April 2026 - 11:32 WIB

Motorola Moto G37 Resmi Diluncurkan, HP 5G Murah yang Masih Setia dengan Jack Audio 3,5 mm

Berita Terbaru

Merkuri (mercury) sering kali menjadi bahan “ajaib” yang ditambahkan pada produk skincare, terutama krim pemutih wajah.

LIFE STYLE & ENTERTAINMENT

Waspada Merkuri dalam Skincare, Ancaman Tersembunyi yang Bisa Merusak Otak dan Organ Tubuh

Selasa, 12 Mei 2026 - 11:19 WIB