koranmetro.com – Pemerintahan Donald Trump kembali membahas rencana akuisisi Greenland, wilayah otonom Denmark di Arktik, dengan militer AS disebut sebagai “opsi yang selalu tersedia”. Pernyataan ini muncul setelah operasi militer sukses di Venezuela, di mana AS menangkap Presiden Nicolás Maduro. Greenland, dengan sumber daya mineral langka dan posisi strategis di Arktik, menjadi prioritas keamanan nasional bagi Trump, meski menuai kecaman dari Eropa.
Latar Belakang Rencana Akuisisi Greenland
Trump pertama kali mengungkapkan minat membeli Greenland pada 2019, menyebutnya sebagai “transaksi real estate besar”. Namun, Denmark menolaknya sebagai “absurd”. Kini, di periode kedua kepresidenannya, diskusi ini semakin serius. Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan Trump sedang membahas “berbagai opsi” untuk mengakuisisi pulau tersebut, termasuk penggunaan militer jika diperlukan. Ini dianggap sebagai langkah untuk mengamankan Arktik dari pengaruh Rusia dan China, yang semakin aktif di wilayah tersebut.
Menurut Stephen Miller, penasihat Trump, AS sudah memiliki basis militer Thule di Greenland, dan klaim Denmark atas pulau itu dipertanyakan. “Greenland seharusnya menjadi bagian dari AS untuk melindungi kepentingan NATO,” katanya. Namun, 85% penduduk Greenland menolak aneksasi, dan Denmark memperingatkan bahwa serangan militer akan mengakhiri NATO.
Reaksi Internasional dan Dampak Potensial
Pemimpin Eropa seperti Emmanuel Macron (Prancis), Giorgia Meloni (Italia), dan Mette Frederiksen (Denmark) mengecam ancaman ini sebagai pelanggaran Piagam PBB tentang kedaulatan. Mereka menekankan bahwa keamanan Arktik harus ditangani secara kolektif melalui NATO, bukan aksi unilateral AS. Frederiksen bahkan menyatakan, “Serangan terhadap Greenland berarti akhir dari aliansi pasca-Perang Dunia II.”
Di media sosial X, diskusi memanas. Beberapa pengguna mendukung Trump untuk alasan strategis, sementara yang lain mengkritiknya sebagai imperialisme modern. Sebuah post menyebutkan rencana militer AS sudah dibahas sejak Mei 2025, termasuk skenario invasi jika negosiasi gagal.
Mengapa Greenland Penting bagi AS?
Greenland kaya mineral langka seperti lithium dan rare earth, penting untuk teknologi hijau dan militer. Dengan mencairnya es Arktik akibat perubahan iklim, rute pelayaran baru terbuka, membuatnya strategis melawan ekspansi Rusia dan China. AS sudah mengoperasikan basis Thule untuk pemantauan rudal, tapi Trump ingin kontrol penuh untuk “melindungi NATO”—meski ini justru mengancam aliansi tersebut.
Langkah ini bisa menjadi preseden berbahaya setelah Venezuela, di mana AS mengambil alih aset minyak. Dunia kini menunggu apakah diskusi ini berujung negosiasi damai atau eskalasi militer. Bagi Trump, ini bagian dari “America First”, tapi bagi sekutu, ini ancaman stabilitas global.









