JAKARTA, koranmetro.com – Banjir bandang dahsyat menerjang kawasan perbatasan Nepal dan Tibet pada Rabu, 26 Agustus 2026. Bencana ini menewaskan sedikitnya 157 orang di Nepal, sementara 403 lainnya dilaporkan hilang. Sebagian besar korban hilang merupakan wisatawan dan peziarah asing.
Jumlah korban diperkirakan masih dapat bertambah seiring berlangsungnya operasi pencarian dan penyelamatan di wilayah yang sulit dijangkau.
Wilayah Terdampak
Banjir melanda sejumlah distrik di Nepal, termasuk Rasuwa dan Nuwakot, serta kawasan sekitar Sungai Trishuli, Bhotekoshi, dan Narayani. Di sisi Tibet, wilayah Gyirong juga terdampak, dengan laporan korban jiwa dan ratusan orang hilang.
Air bah membawa lumpur dan material longsoran, menghancurkan pemukiman, jembatan, jalan, serta infrastruktur listrik. Sedikitnya 19 jembatan dan hampir 40 kilometer jalan rusak atau hanyut, sehingga beberapa kawasan menjadi terisolasi.
Korban Jiwa dan Orang Hilang
Menurut data kepolisian Nepal, sedikitnya 157 jenazah telah ditemukan di berbagai lokasi, antara lain Chitwan, Dhading, Nawalparasi Timur, Gorkha, Nuwakot, Tanahun, dan Rasuwa. Di Tibet, laporan media pemerintah China menyebut setidaknya tiga orang tewas dan ratusan lainnya hilang.
Dari 403 orang yang hilang di Nepal, sekitar 341 di antaranya merupakan warga negara asing. Rincian sementara meliputi:
- 133 warga India (sebagian besar peziarah menuju Gunung Kailash)
- 47 warga Amerika Serikat
- 34 warga Australia
- 33 warga Inggris
- 24 warga Kanada
Selain itu, puluhan warga Nepal yang sedang melakukan trekking di kawasan Danau Gosaikunda, Distrik Rasuwa, juga dilaporkan hilang. Sejumlah personel keamanan Nepal ikut belum diketahui nasibnya.
Dugaan Penyebab
Para ahli menduga banjir dipicu longsoran es, batu, dan material dari gletser di kawasan Himalaya yang sempat membendung aliran sungai. Ketika bendungan alami jebol, air bah turun dengan cepat ke hilir dan menghantam permukiman serta infrastruktur di sepanjang sungai.
Peristiwa ini terjadi di wilayah yang rentan terhadap dampak perubahan iklim, di mana gletser Himalaya semakin tidak stabil.
Upaya Penanganan
Otoritas Nepal terus melakukan pencarian, evakuasi, dan pemulihan. Warga di beberapa distrik diimbau menjauh dari bantaran sungai yang berisiko. Bantuan darurat, termasuk selimut, peralatan medis, dan logistik, disalurkan ke kawasan terdampak.
Beberapa negara yang warganya dilaporkan hilang juga memantau situasi dan berkoordinasi dengan pihak Nepal terkait proses pencarian serta identifikasi.
Banjir bandang di perbatasan Nepal–Tibet menjadi salah satu bencana paling mematikan di kawasan tersebut dalam waktu dekat. Dengan ratusan korban jiwa dan orang hilang—termasuk banyak wisatawan asing—operasi pencarian masih menjadi prioritas utama.









