Badai Sempurna di Tanah Air, Ketika Banyak Krisis Saling Mengikat

- Jurnalis

Minggu, 25 Oktober 2026 - 11:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Indonesia saat ini tidak hanya menghadapi satu atau dua masalah. Yang terjadi adalah polikrisis—kondisi di mana berbagai krisis datang bersamaan,

Indonesia saat ini tidak hanya menghadapi satu atau dua masalah. Yang terjadi adalah polikrisis—kondisi di mana berbagai krisis datang bersamaan,

JAKARTA, koranmetro.com – Indonesia saat ini tidak hanya menghadapi satu atau dua masalah. Yang terjadi adalah polikrisis—kondisi di mana berbagai krisis datang bersamaan, saling terkait, dan saling memperkuat dampaknya. Bukan sekadar badai yang datang bergantian, melainkan badai sempurna yang menyerang dari berbagai arah sekaligus.

Apa Itu Polikrisis?

Istilah polikrisis dipopulerkan oleh sejarawan ekonomi Adam Tooze dan diadopsi World Economic Forum. Intinya sederhana: beberapa krisis tidak berdiri sendiri. Mereka saling berkelindan sehingga dampak totalnya jauh lebih besar daripada jumlah masing-masing krisis.

Di Indonesia, gejala ini semakin jelas terlihat pada 2025–2026. Masalah iklim, ekonomi, sosial, dan politik saling bertautan menjadi benang kusut yang sulit diurai.

Wujud Polikrisis di Indonesia

1. Krisis Iklim dan Pangan
Banjir berkepanjangan di satu wilayah beriringan dengan kekeringan parah di wilayah lain. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin meluas, memicu kabut asap yang merugikan kesehatan masyarakat dan mengundang protes negara tetangga. Akibatnya, panen komoditas strategis seperti beras, jagung, dan kedelai terganggu. Harga pangan naik, daya beli masyarakat tergerus.

Baca Juga :  Nikita Mirzani Vs Putrinya, Dugaan Hamil, Aborsi, dan Laporan Polisi

2. Tekanan Ekonomi dan Fiskal
Gelombang pemutusan hubungan kerja di sektor padat karya menurunkan daya beli kelas menengah yang selama ini menjadi penopang konsumsi domestik. Rupiah mengalami tekanan, ruang fiskal menyempit karena beban utang dan belanja rutin yang tinggi. Subsidi energi membengkak akibat harga minyak dunia, sementara kemampuan pemerintah membiayai jaring pengaman sosial dan adaptasi iklim semakin terbatas.

3. Dampak Sosial dan Kepercayaan Publik
Ketika harga kebutuhan pokok naik, lapangan kerja berkurang, dan bencana datang berulang, tekanan pada rumah tangga meningkat. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara.

Mengapa Sulit Diurai?

Setiap upaya menyelesaikan satu masalah sering kali memperparah masalah lain. Misalnya, upaya menekan defisit anggaran bisa mengurangi anggaran penanganan bencana. Sebaliknya, menambah subsidi energi memperberat beban fiskal. Inilah karakteristik utama polikrisis: menarik satu benang justru mengencangkan simpul di tempat lain.

Baca Juga :  Laut Indonesia Lebih Vital dari Selat Hormuz, Prabowo Ingatkan Strategi Maritim Nasional

Jalan Keluar yang Diperlukan

Mengatasi polikrisis tidak cukup dengan pendekatan tambal sulam atau bantuan sosial yang bersifat sementara. Diperlukan langkah yang lebih sistematis:

  • Memperkuat ketahanan pangan dan adaptasi iklim secara terpadu.
  • Menjaga stabilitas makroekonomi sambil melindungi daya beli masyarakat.
  • Memperbaiki tata kelola agar kebijakan lintas sektor saling mendukung, bukan saling bertabrakan.
  • Membangun komunikasi publik yang jujur dan transparan untuk menjaga kepercayaan.

Polikrisis bukan sekadar ancaman di masa depan. Gejalanya sudah terasa di berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Tantangan utamanya bukan hanya seberapa cepat kita merespons satu krisis, melainkan seberapa mampu kita melihat keterkaitan antar-krisis dan menyusun strategi yang menyeluruh.

Berita Terkait

Usulan Luhut soal Unsur Kerugian Negara dalam Korupsi, Begini Bunyi UU Tipikor dan Klarifikasinya
Mantan Komisi II DPR, Pasal PKPU soal Syarat Pencalonan Gibran Tidak Pernah Dibahas
Empat Petugas dan Relawan Gugur dalam Upaya Pemadaman Karhutla di Bromo, Kemenhut Tekankan Keselamatan Personel
Mengapa Karhutla Sulit Dipadamkan? Ancaman Berulang dari Lahan Gambut dan Aktivitas Manusia
Mencegah Praktik Pemerasan Aparat, Perlunya Reformasi Sistemik dan Pengawasan Ketat
Istana Padat Aktivitas di Awal Oktober, Perombakan Kabinet dan Pelantikan Wantimpres
KPK Dalami Peran Aspri Ridwan Kamil dalam Dugaan Aliran Dana Kasus Iklan Bank BJB
Mendagri Tito Bahas Pembangunan 2.200 Rumah di Papua Pegunungan dan Program Gentengisasi
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 25 Oktober 2026 - 11:11 WIB

Badai Sempurna di Tanah Air, Ketika Banyak Krisis Saling Mengikat

Kamis, 22 Oktober 2026 - 11:17 WIB

Usulan Luhut soal Unsur Kerugian Negara dalam Korupsi, Begini Bunyi UU Tipikor dan Klarifikasinya

Senin, 19 Oktober 2026 - 11:16 WIB

Mantan Komisi II DPR, Pasal PKPU soal Syarat Pencalonan Gibran Tidak Pernah Dibahas

Jumat, 16 Oktober 2026 - 11:11 WIB

Empat Petugas dan Relawan Gugur dalam Upaya Pemadaman Karhutla di Bromo, Kemenhut Tekankan Keselamatan Personel

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:11 WIB

Mengapa Karhutla Sulit Dipadamkan? Ancaman Berulang dari Lahan Gambut dan Aktivitas Manusia

Berita Terbaru

Kesehatan mata sering kali diabaikan hingga muncul keluhan seperti mata kering, penglihatan kabur, atau sakit kepala. Padahal,

LIFE STYLE & ENTERTAINMENT

Lima Kebiasaan Sehari-hari yang Diam-diam Mengancam Kesehatan Mata

Jumat, 23 Okt 2026 - 11:21 WIB