Banjir dan Longsor Besar Melanda Sumatra dan Asia, Korban Tewas Melampaui 1.500 Jiwa

- Jurnalis

Kamis, 4 Desember 2025 - 21:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

koranmetro.com – Bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi dalam beberapa hari terakhir menjadi salah satu musibah terbesar di kawasan Asia tahun ini. Sumatra menjadi salah satu wilayah yang paling parah terdampak, dengan ribuan warga mengungsi, puluhan kota lumpuh, dan infrastruktur rusak berat. Total korban tewas di berbagai negara Asia kini telah melampaui 1.500 jiwa, angka yang terus bergerak karena tim penyelamat masih melakukan pencarian di sejumlah lokasi terpencil.

Kondisi di Sumatra: Akses Terputus, Wilayah Terisolasi

Beberapa daerah di Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh mengalami banjir bandang yang datang cepat, disertai longsor di kawasan perbukitan. Banyak desa terputus total akibat jalan hancur atau jembatan hilang terbawa arus. Tim SAR menghadapi medan yang ekstrem, ditambah cuaca yang masih tidak stabil.

Selain itu, pasokan bahan bakar di beberapa wilayah dilaporkan menipis, menyulitkan distribusi bantuan dan mobilisasi alat berat. Sejumlah titik listrik padam dan jaringan komunikasi juga tidak stabil.

Dampak di Negara Asia Lain: Situasi yang Sama Beratnya

Baca Juga :  Komitmen Menkominfo Bangun Ekosistem Digital dan AI Diapresiasi

Bencana serupa juga menimpa beberapa negara tetangga di Asia, yang membuat angka korban melonjak drastis. Wilayah yang berada di garis badai musiman mengalami kondisi hampir sama: banjir besar, tanah longsor, dan gagal fungsi infrastruktur.

Fenomena cuaca ekstrem tahun ini dipicu kombinasi curah hujan di atas normal, badai musiman yang memanjang, serta kerusakan lingkungan di sejumlah titik. Di beberapa wilayah, banjir datang pada malam hari, membuat proses evakuasi hampir mustahil.

Deforestasi Jadi Sorotan

Pakar lingkungan kembali menyoroti laju deforestasi sebagai salah satu faktor yang memperparah dampak banjir. Hilangnya penahan tanah di daerah perbukitan mengakibatkan longsor lebih mudah terjadi, sementara aliran air tidak tersaring secara alami.

Tekanan publik agar pemerintah bertindak lebih keras terhadap pembalakan liar dan tata ruang buruk semakin meningkat. Banyak kelompok masyarakat sipil menuntut audit lingkungan besar-besaran setelah situasi mulai stabil.

Upaya Pemerintah dan Bantuan Logistik

Pemerintah pusat dan daerah telah mengerahkan bantuan melalui jalur darat, laut, dan udara. Namun distribusinya terganggu oleh medan sulit dan cuaca yang tidak menentu. Beberapa wilayah hanya bisa dijangkau helikopter atau perahu kecil. Prioritas saat ini meliputi:

Baca Juga :  Update Korban Bencana Sumatera 6 Desember 2025, 914 Orang Meninggal, 389 Masih Hilang

• evakuasi korban selamat
• pengiriman makanan dan air bersih
• penempatan tenda dan dapur umum
• perbaikan akses jalan utama

Organisasi kemanusiaan internasional juga mulai turun tangan karena skala bencana dinilai cukup besar untuk membutuhkan bantuan lintas negara.

Korban Terus Bertambah

Jumlah korban tewas sudah melewati 1.500 jiwa, tetapi angka final kemungkinan masih berubah. Banyak wilayah terpencil belum sepenuhnya diperiksa tim penyelamat. Selain itu, ribuan warga mengalami luka-luka, dan ratusan orang dilaporkan hilang.

Bencana banjir dan longsor kali ini menunjukkan betapa rentannya wilayah Asia terhadap perubahan iklim, cuaca ekstrem, dan kerusakan lingkungan. Sumatra menjadi salah satu titik terparah, tetapi dampaknya dirasakan jauh lebih luas di tingkat regional.

Perbaikan sistem mitigasi, penataan ruang, serta perlindungan hutan kini semakin mendesak. Setelah fase darurat berakhir, langkah pemulihan jangka panjang akan menentukan seberapa siap kawasan ini menghadapi bencana berikutnya.

Berita Terkait

Misteri Di Balik Sebutan “Kandang Banteng” untuk Jawa Tengah
PDI Perjuangan Rayakan Milad ke-53, Konsolidasi Kekuatan di Tengah Tantangan Bangsa
Mengapa Chromebook Sulit Digunakan di Wilayah 3T? Penjelasan dari Mantan Dirjen Dikdasmen
Musibah Sumatra, Cobaan Akhir Tahun bagi Persatuan Bangsa
BNPB Terima Lebih dari 34.000 Permohonan Hunian bagi Korban Banjir Sumatera
Panggil CEO Danantara, Prabowo Minta Laporan Kampung Haji hingga Hunian Korban Bencana
Viral Pembatalan Misa Natal di Depok, Wali Kota depok Beri Penjelasan
Pramono Larang Pesta Kembang Api saat Malam Tahun Baru 2026 di Jakarta
Berita ini 11 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 14 Januari 2026 - 11:18 WIB

Misteri Di Balik Sebutan “Kandang Banteng” untuk Jawa Tengah

Selasa, 6 Januari 2026 - 14:00 WIB

Mengapa Chromebook Sulit Digunakan di Wilayah 3T? Penjelasan dari Mantan Dirjen Dikdasmen

Kamis, 1 Januari 2026 - 11:23 WIB

Musibah Sumatra, Cobaan Akhir Tahun bagi Persatuan Bangsa

Minggu, 28 Desember 2025 - 23:18 WIB

BNPB Terima Lebih dari 34.000 Permohonan Hunian bagi Korban Banjir Sumatera

Sabtu, 27 Desember 2025 - 23:16 WIB

Panggil CEO Danantara, Prabowo Minta Laporan Kampung Haji hingga Hunian Korban Bencana

Berita Terbaru