Gen-Z, Konten 15 Detik, dan Bahaya Radikalisme di Balik Scroll Tak Berujung

- Jurnalis

Kamis, 20 November 2025 - 11:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tahun 2025, Gen-Z Indonesia (lahir 1997–2012) adalah generasi yang paling melek teknologi sekaligus paling rentan terhadap radikalisme online dalam sejarah bangsa ini.

Tahun 2025, Gen-Z Indonesia (lahir 1997–2012) adalah generasi yang paling melek teknologi sekaligus paling rentan terhadap radikalisme online dalam sejarah bangsa ini.

JAKARTA, koranmetro.com – Tahun 2025, Gen-Z Indonesia (lahir 1997–2012) adalah generasi yang paling melek teknologi sekaligus paling rentan terhadap radikalisme online dalam sejarah bangsa ini.

Mereka lahir dengan Wi-Fi, besar dengan TikTok, dan mendapat “pendidikan agama” dari reels 30 detik, meme berantai, dan grup WhatsApp anonim. Hasilnya? Menurut data BNPT 2025:

  • 41 % kasus paparan radikalisme baru melibatkan usia 15–25 tahun
  • 68 % di antaranya pertama kali terpapar lewat media sosial
  • 1 dari 4 anak SMA di kota besar pernah ditawari masuk “grup kajian” tertutup di Telegram

Mengapa Gen-Z Paling Rawan?

Faktor Klasik Radikalisme Versi Gen-Z 2025
Rasa ketidakadilan “Generasi strawberi” vs boomer kaya, korupsi merajalela
Krisis identitas “Gue Muslim tapi kok gak kayak di TikTok?”
Kurangnya figur otoritas Ulama tradisional kalah pamor dari “ustaz reels”
Informasi berlebih 10.000 konten sehari, 90 % tanpa sumber jelas
Algoritma sebagai “guru” Semakin sering nonton “kafir = musuh”, semakin banyak konten serupa muncul

Konten Radikal yang Disamarkan sebagai “Literasi Islam”

  1. Reels “Fakta Sejarah” “Tahukah kamu? Khalifah Umar pernah menghancurkan patung…” (dipotong, tanpa konteks) → 3 juta views
  2. Meme “Kafir vs Muslim” Foto orang sholat vs orang pesta → caption “Pilih mana?” → 800 ribu likes
  3. Voice Note 45 detik “Kalian masih percaya demokrasi? Padahal Rasulullah tidak pernah voting!” → dibagikan 120.000 kali
  4. Challenge “Baca Al-Qur’an 1 menit” Ternyata setelah hari ke-7 masuk grup Telegram berisi ajakan “hijrah ke khilafah”
Baca Juga :  Kasus Kontroversial, Tersangka F Beri Uang Rp100 Ribu kepada Anak Korban Eks Kapolres Ngada

Literasi Digital vs Literasi Agama: Lingkaran Setan

Gen-Z Indonesia memiliki literasi digital tinggi, tapi literasi agama dan sejarah sangat rendah:

  • 78 % bisa edit video CapCut dalam 5 menit
  • Hanya 12 % tahu kronologi Perang Badar secara utuh
  • 62 % percaya “Israel = Yahudi = musuh Islam” tanpa tahu perbedaan politik-agama
  • 39 % menganggap “mengkritik pemerintah = haram” karena kutipan hadis tanpa sanad
Baca Juga :  Indonesia Deportasi Buronan Warga Negara AS Tersangka Pelecehan Seksual

Jalan Keluar: Bangun “Benteng Literasi” Sebelum Terlambat

  1. Sekolah & Kampus Wajibkan mata kuliah “Literasi Media Sosial dan Agama” mulai SMA (bukan cuma PPKn).
  2. Orang Tua Jangan cuma larang HP, tapi buka diskusi: “Kamu tadi lihat video apa? Coba kita cek sumbernya.”
  3. Konten Kreator Muslim Progresif Saat ini jumlahnya kalah telak dibanding “ustaz viral”. Butuh 1.000 kreator baru yang paham fiqih + editing.
  4. Platform TikTok & Instagram harus kerja sama dengan Kemenag untuk label “konten sensitif agama” seperti label politik.
  5. Komunitas Offline Kajian remaja yang seru (ngopi, main board game, diskusi bebas) jauh lebih efektif daripada ceramah 2 jam.

Gen-Z bukan generasi yang bodoh atau radikal secara alami. Mereka hanya hidup di zaman di mana algoritma lebih sering mengajari agama daripada orang tua atau ustaz sekolah.

Berita Terkait

Pajak pada Produk Menstruasi, Beban Tersembunyi yang Masih Dipertanyakan
Cuaca Ekstrem Masih Mengancam, BNPB Ingatkan Warga Aceh Tetap Waspada
Badai Sempurna di Tanah Air, Ketika Banyak Krisis Saling Mengikat
Usulan Luhut soal Unsur Kerugian Negara dalam Korupsi, Begini Bunyi UU Tipikor dan Klarifikasinya
Mantan Komisi II DPR, Pasal PKPU soal Syarat Pencalonan Gibran Tidak Pernah Dibahas
Empat Petugas dan Relawan Gugur dalam Upaya Pemadaman Karhutla di Bromo, Kemenhut Tekankan Keselamatan Personel
Mengapa Karhutla Sulit Dipadamkan? Ancaman Berulang dari Lahan Gambut dan Aktivitas Manusia
Mencegah Praktik Pemerasan Aparat, Perlunya Reformasi Sistemik dan Pengawasan Ketat
Berita ini 103 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 11:05 WIB

Cuaca Ekstrem Masih Mengancam, BNPB Ingatkan Warga Aceh Tetap Waspada

Minggu, 25 Oktober 2026 - 11:11 WIB

Badai Sempurna di Tanah Air, Ketika Banyak Krisis Saling Mengikat

Kamis, 22 Oktober 2026 - 11:17 WIB

Usulan Luhut soal Unsur Kerugian Negara dalam Korupsi, Begini Bunyi UU Tipikor dan Klarifikasinya

Senin, 19 Oktober 2026 - 11:16 WIB

Mantan Komisi II DPR, Pasal PKPU soal Syarat Pencalonan Gibran Tidak Pernah Dibahas

Jumat, 16 Oktober 2026 - 11:11 WIB

Empat Petugas dan Relawan Gugur dalam Upaya Pemadaman Karhutla di Bromo, Kemenhut Tekankan Keselamatan Personel

Berita Terbaru

Memelihara kucing bukan hanya soal menemani hari-hari di rumah. Bagi banyak orang, kehadiran kucing justru memberi dampak positif terhadap kondisi mental.

LIFE STYLE & ENTERTAINMENT

Berbagi Rumah dengan Kucing Bisa Menenangkan Pikiran

Senin, 2 Nov 2026 - 11:13 WIB

AC Milan berhasil menang 3-1 atas Inter Milan pada laga Derby della Madonnina di San Siro, Sabtu, 31 Oktober 2026.

Liga Italia

AC Milan Bungkam Inter 3-1 di Derby della Madonnina

Minggu, 1 Nov 2026 - 11:17 WIB

Pebalap Gresini Racing, Alex Marquez, berhasil merebut pole position pada sesi kualifikasi MotoGP Malaysia 2026 di Sirkuit Sepang,

OTOMOTIF

Alex Marquez Raih Pole Position di MotoGP Malaysia 2026

Sabtu, 31 Okt 2026 - 11:12 WIB