Insiden Ledakan di Laut Hitam, Dua Tanker Minyak Terbakar Diduga Karena Ranjau, Ancaman Perang Ukraina Masih Mengintai

- Jurnalis

Sabtu, 29 November 2025 - 11:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Laut Hitam kembali menjadi sorotan dunia setelah dua kapal tanker minyak meledak dan terbakar secara misterius pada Jumat (28/11/2025).

Laut Hitam kembali menjadi sorotan dunia setelah dua kapal tanker minyak meledak dan terbakar secara misterius pada Jumat (28/11/2025).

koranmetro.com – Laut Hitam kembali menjadi sorotan dunia setelah dua kapal tanker minyak meledak dan terbakar secara misterius pada Jumat (28/11/2025). Insiden ini, yang terjadi dekat perairan Turki, diduga kuat disebabkan oleh ranjau laut atau proyektil serupa, mengingatkan pada dampak berkepanjangan dari konflik Rusia-Ukraina. Beruntung, semua awak kapal berhasil dievakuasi tanpa korban jiwa, tetapi kejadian ini menimbulkan kekhawatiran baru terhadap keselamatan pelayaran di kawasan strategis tersebut.

Kronologi Kejadian yang Mengguncang

Menurut laporan Direktorat Jenderal Urusan Maritim Turki, kapal tanker pertama bernama Kairos, yang berbendera Gambia dan memiliki panjang 274 meter, mengalami ledakan sekitar pukul 10.00 waktu setempat. Kapal ini sedang dalam perjalanan dari Mesir menuju pelabuhan Novorossiysk di Rusia ketika terkena “dampak eksternal” sekitar 28 mil laut (sekitar 52 kilometer) dari pantai Turki. Api melahap bagian haluan kapal, disertai asap hitam tebal yang terlihat dari kejauhan, sementara rekaman video yang dirilis otoritas menunjukkan kobaran api yang dahsyat.

Tak lama setelah itu, kapal tanker kedua, Virat, juga dilaporkan tertabrak sesuatu sekitar 35 mil laut lebih ke timur di Laut Hitam. Kedua insiden ini terjadi di wilayah yang sama, dekat Selat Bosphorus, rute pelayaran vital yang menghubungkan Eropa dengan Asia. Menteri Perhubungan Turki, Abdulkadir Uraloglu, segera mengonfirmasi bahwa penyebab utama adalah faktor eksternal, termasuk kemungkinan ranjau laut, roket, drone, atau bahkan kendaraan bawah air tak berawak. “Informasi dari kapal mengindikasikan serangan ranjau,” ujarnya dalam wawancara dengan stasiun TV NTV.

Baca Juga :  Di Konferensi Tokyo, SBY Kritik Langkah Mundur AS dari Badan PBB

Operasi penyelamatan dilancarkan dengan cepat oleh otoritas Turki. Unit penyelamat maritim, didukung kapal komersial terdekat, berhasil mengevakuasi seluruh kru dari kedua kapal. Saat ini, Kairos dilaporkan dalam kondisi berbahaya dan berpotensi tenggelam, sementara Virat masih dipantau untuk mencegah tumpahan minyak yang lebih besar.

Konteks: Bayangan Armada ‘Shadow Fleet’ Rusia

Yang membuat insiden ini semakin pelik adalah status kedua kapal tersebut. Baik Kairos maupun Virat termasuk dalam “armada bayangan” Rusia—sekelompok kapal tanker yang digunakan Moskow untuk mengangkut minyak mentahnya meskipun dihantam sanksi Barat sejak invasi ke Ukraina pada Februari 2022. Embargo Uni Eropa dan AS terhadap ekspor minyak Rusia membuat negara itu beralih ke kapal-kapal dengan bendera netral seperti Gambia, sering kali tanpa asuransi standar dan pemeliharaan memadai.

Sejak perang dimulai, Laut Hitam telah menjadi medan ranjau yang mematikan. Ribuan ranjau laut yang ditempatkan oleh Rusia dan Ukraina untuk melindungi garis pantai mereka kini hanyut bebas akibat badai dan arus, mengancam rute pelayaran sipil. Turki, sebagai negara NATO yang mengontrol Selat Bosphorus dan Dardanelles berdasarkan Konvensi Montreux 1936, telah berulang kali memperingatkan bahaya ini. Pada 2024, Turki, Bulgaria, dan Romania membentuk Kelompok Penanggulangan Ranjau Laut untuk membersihkan wilayah tersebut, termasuk dengan mengerahkan drone Anka-S berteknologi radar MILSAR.

Dampak Ekonomi dan Geopolitik

Insiden ini bukan hanya tragedi maritim, tapi juga pukulan bagi rantai pasok energi global. Rusia, yang bergantung pada ekspor minyak melalui Laut Hitam, kini menghadapi gangguan lebih lanjut. Harga minyak Brent sempat melonjak 2% di pasar Asia pagi ini, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas rute alternatif. Selain itu, risiko tumpahan minyak mengancam ekosistem Laut Hitam, yang sudah rapuh akibat konflik berkepanjangan.

Baca Juga :  Kecelakaan Bus di Guatemala, 51 Orang Meninggal Dunia

Dari sisi geopolitik, kejadian ini memicu spekulasi. Apakah ini ranjau hanyut tak sengaja, atau bagian dari serangan siber-fisik yang lebih besar? Ukraina, yang baru saja melancarkan operasi drone besar-besaran terhadap fasilitas minyak Rusia pada 14 November 2025, belum mengomentari insiden ini. Sementara Rusia menyalahkan “provokasi Barat”, Turki menekankan netralitasnya sambil memperketat pengawasan pelayaran.

Upaya Pencegahan dan Masa Depan

Turki telah meningkatkan patroli dengan kapal penyapu ranjau dan drone pengintai, tapi tantangannya besar: ribuan ranjau masih mengambang di perairan yang luas. Organisasi Maritim Internasional (IMO) mendesak kolaborasi lebih erat antarnegara pesisir untuk operasi pembersihan massal.

Insiden ledakan dua tanker ini menjadi pengingat pahit bahwa perang di Ukraina tak hanya menghancurkan daratan, tapi juga lautan yang menghubungkan dunia. Hingga kini, lalu lintas pelayaran melalui Selat Bosphorus tetap berjalan, tapi dengan kewaspadaan ekstra. Pemerintah Turki berjanji investigasi menyeluruh, sementara dunia menanti apakah Laut Hitam akan kembali tenang atau justru memasuki babak eskalasi baru.

Berita Terkait

Tragedi Dua Bayi di NICU India, Dugaan Gigitan Tikus Picu Tuduhan Kelalaian Rumah Sakit
Langkah Bersejarah: Dewan Keamanan PBB Izinkan Pasukan Internasional Stabilisasi Gaza
Operasi IRGC di Teluk Oman, Iran Bekukan Tanker Petrokimia yang Diduga Langgar Sanksi
Tragedi Jembatan Hongqi, Ambruknya Infrastruktur Baru China akibat Longsor di Sichuan
Demokrasi Sejati, Pelajaran dari Kemenangan Zohran Mamdani di Pemilu Wali Kota New York
Krisis Diplomatik, Peru Putus Hubungan dengan Meksiko, Latar Belakang Tuduhan Asilum Mantan PM
Tragedi “Perang Kota” di Rio, Kronologi Mega Penggerebekan Polisi yang Ceplok 132 Nyawa Lawan Geng Narkoba Comando Vermelho
Drone Rusia Serang Ibu Kota Ukraina, 3 Orang Tewas
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 29 November 2025 - 11:25 WIB

Insiden Ledakan di Laut Hitam, Dua Tanker Minyak Terbakar Diduga Karena Ranjau, Ancaman Perang Ukraina Masih Mengintai

Minggu, 23 November 2025 - 11:35 WIB

Tragedi Dua Bayi di NICU India, Dugaan Gigitan Tikus Picu Tuduhan Kelalaian Rumah Sakit

Selasa, 18 November 2025 - 11:43 WIB

Langkah Bersejarah: Dewan Keamanan PBB Izinkan Pasukan Internasional Stabilisasi Gaza

Minggu, 16 November 2025 - 11:18 WIB

Operasi IRGC di Teluk Oman, Iran Bekukan Tanker Petrokimia yang Diduga Langgar Sanksi

Rabu, 12 November 2025 - 13:50 WIB

Tragedi Jembatan Hongqi, Ambruknya Infrastruktur Baru China akibat Longsor di Sichuan

Berita Terbaru