Tragedi di Sweida, Puluhan Jasad Membusuk Ditemukan di Belakang Rumah Sakit

- Jurnalis

Rabu, 23 Juli 2025 - 14:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Konflik berkepanjangan di Suriah kembali menyeruak dengan penemuan mengerikan di Rumah Sakit Nasional Sweida.

Konflik berkepanjangan di Suriah kembali menyeruak dengan penemuan mengerikan di Rumah Sakit Nasional Sweida.

JAKARTA, koranmetro.com  – Konflik berkepanjangan di Suriah kembali menyeruak dengan penemuan mengerikan di Rumah Sakit Nasional Sweida. Puluhan mayat dalam kondisi membusuk ditemukan teronggok di belakang rumah sakit setelah kelompok bersenjata yang disebut sebagai “kelompok di luar hukum” oleh Kementerian Kesehatan Suriah menarik diri dari wilayah tersebut pada Juli 2025. Penemuan ini menambah daftar panjang tragedi kemanusiaan yang terus menghantui negara yang telah dilanda perang selama lebih dari satu dekade.

Kronologi Penemuan

Menurut laporan Kementerian Kesehatan Suriah, jasad-jasad tersebut ditemukan pada 17 Juli 2025, setelah bentrokan sengit selama empat hari di Provinsi Sweida antara milisi Druze dan suku Bedouin yang didukung pasukan pemerintah. Konflik ini, yang menewaskan ratusan orang termasuk warga sipil, memaksa kelompok bersenjata meninggalkan area rumah sakit. Saat petugas kesehatan dan tim penyelamat memeriksa lokasi, mereka menemukan pemandangan mengerikan: puluhan mayat yang dibiarkan tanpa penguburan yang layak, beberapa di antaranya menunjukkan tanda-tanda kekerasan ekstrem.

Seorang pekerja kemanusiaan yang terlibat dalam evakuasi jenazah menggambarkan kondisi mayat yang sudah membusuk parah, beberapa di antaranya diperkirakan telah berada di lokasi selama berminggu-minggu. “Kami menemukan mereka dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Bau busuk menyengat, dan banyak jasad yang sulit dikenali,” ujarnya. Proses identifikasi tengah dilakukan, dengan tes DNA untuk menentukan usia dan identitas korban guna mencari keluarga mereka.

Latar Belakang Konflik

Sweida, wilayah yang dikenal sebagai basis komunitas Druze, telah lama menjadi pusat ketegangan sektarian. Bentrokan terbaru dipicu oleh insiden perampokan dan penculikan yang melibatkan anggota suku Bedouin terhadap warga Druze, yang memicu eskalasi kekerasan. Pasukan pemerintah, yang dipimpin oleh Presiden interim Ahmad al-Sharaa dari Hayat Tahrir al-Sham (HTS), turun tangan untuk meredakan situasi. Namun, intervensi mereka justru memicu konflik dengan milisi Druze, yang menuduh pemerintah berpihak pada suku Bedouin. Kekerasan ini juga memicu serangan udara Israel, yang mengklaim bertindak untuk melindungi komunitas Druze di wilayah tersebut.

Baca Juga :  Tornado Dahsyat Guncang Amerika Serikat Tengah, 33 Orang Meninggal Dunia

Konflik di Sweida mencerminkan tantangan besar yang dihadapi pemerintahan baru Suriah pasca-penggulingan Bashar al-Assad pada Desember 2024. Ketidakpercayaan terhadap pemerintah, ketegangan antar-kelompok etnis dan agama, serta campur tangan aktor eksternal seperti Israel, terus memperkeruh situasi keamanan.

Respons dan Upaya Penanganan

Pemerintah Suriah telah memberlakukan penjagaan keamanan ketat di sekitar Sweida untuk mencegah kekerasan lebih lanjut. Gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat, Turki, dan negara-negara Arab pada 17 Juli 2025, berhasil mengurangi intensitas konflik, meskipun laporan menyebutkan adanya kekerasan sporadis. Otoritas setempat juga telah mencapai kesepakatan evakuasi untuk warga sipil yang terjebak di zona konflik, namun ketidakpastian keamanan masih membayangi.

Tim medis dan relawan kemanusiaan bekerja keras untuk memindahkan jasad-jasad ke fasilitas yang layak, dengan prioritas pada identifikasi dan penguburan yang sesuai. “Kami berusaha memberikan penghormatan terakhir kepada para korban. Ini adalah tugas yang berat, tetapi kami berkomitmen untuk membantu keluarga yang kehilangan,” kata seorang pejabat kesehatan setempat.

Baca Juga :  Iran Umumkan Senjata Canggih Baru, “Siap Digunakan Jika AS Bertindak”

Dampak Kemanusiaan

Penemuan mayat-mayat ini menambah luka kemanusiaan di Suriah, di mana puluhan ribu warga sipil telah hilang, dibunuh, atau disiksa selama perang saudara. Menurut laporan PBB, kekerasan sistematis, termasuk penahanan sewenang-wenang dan eksekusi massal, telah menjadi bagian dari konflik yang berkepanjangan. Sweida, yang sempat dianggap sebagai salah satu wilayah yang relatif stabil, kini menjadi simbol kegagalan dalam melindungi warga sipil dan minoritas.

Warga setempat mengungkapkan keputusasaan mereka. “Kami hanya ingin hidup damai, tapi setiap hari ada kematian dan kehancuran,” ujar seorang ibu yang kehilangan anaknya dalam konflik tersebut. Banyak keluarga di Sweida kini terpaksa mengungsi ke wilayah perbatasan, meninggalkan rumah dan harta benda mereka di tengah ketidakpastian.

Panggilan untuk Keadilan

Komunitas internasional telah menyerukan penyelidikan menyeluruh terkait penemuan mayat-mayat ini. Organisasi hak asasi manusia mendesak agar pelaku kekerasan di Sweida diadili, dengan fokus pada akuntabilitas terhadap pelanggaran kemanusiaan. Sementara itu, pemerintah Suriah berjanji untuk menindaklanjuti kasus ini, meskipun tantangan dalam membentuk sistem keadilan yang kredibel di tengah transisi politik tetap besar.

Tragedi di Rumah Sakit Nasional Sweida menjadi pengingat kelam bahwa perdamaian di Suriah masih jauh dari kenyataan. Di tengah puing-puing konflik, harapan untuk keadilan dan penyembuhan bagi korban serta keluarga mereka tetap menjadi prioritas yang mendesak.

Berita Terkait

Kontroversi Uang $250 Baru, Wajah Trump Diusulkan Jadi Ikon Peringatan 250 Tahun Amerika
Trump Dorong Normalisasi Hubungan Israel dengan Negara Muslim Pasca-Perang
Iran Umumkan Senjata Canggih Baru, “Siap Digunakan Jika AS Bertindak”
Trump dan Penarikan Pasukan AS dari Eropa: Batalnya Pengiriman 4.000 Tentara ke Polandia
Lionel Messi Masuk Daftar, Skuad Sementara Argentina untuk Pertahankan Gelar Juara Piala Dunia 2026
Kepemimpinan Teladan, CEO Japan Airlines yang Rela Berkorban untuk Lindungi Karyawan
CIA Bocor, Iran Masih Kuasai 70% Rudal, Kontradiksi Klaim Trump soal “Hancur Lebur”
Reaksi Kanselir Jerman terhadap Penarikan Pasukan AS, Langkah Menuju Kemandirian Eropa?
Berita ini 21 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 29 Mei 2026 - 11:47 WIB

Kontroversi Uang $250 Baru, Wajah Trump Diusulkan Jadi Ikon Peringatan 250 Tahun Amerika

Selasa, 26 Mei 2026 - 11:11 WIB

Trump Dorong Normalisasi Hubungan Israel dengan Negara Muslim Pasca-Perang

Kamis, 21 Mei 2026 - 11:26 WIB

Iran Umumkan Senjata Canggih Baru, “Siap Digunakan Jika AS Bertindak”

Minggu, 17 Mei 2026 - 11:41 WIB

Trump dan Penarikan Pasukan AS dari Eropa: Batalnya Pengiriman 4.000 Tentara ke Polandia

Selasa, 12 Mei 2026 - 11:12 WIB

Lionel Messi Masuk Daftar, Skuad Sementara Argentina untuk Pertahankan Gelar Juara Piala Dunia 2026

Berita Terbaru

Hairspray merupakan salah satu produk penata rambut yang paling populer dan banyak digunakan, baik oleh wanita maupun pria. Namun,

LIFE STYLE & ENTERTAINMENT

Hairspray dan Kesehatan Rambut, Seberapa Berbahaya Sebenarnya?

Sabtu, 30 Mei 2026 - 11:36 WIB