Kamboja dan Thailand, Langkah Berani Menuju Perdamaian di Perbatasan

- Jurnalis

Rabu, 10 Desember 2025 - 11:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

10 Desember 2025 – Setelah puluhan tahun ketegangan dan insiden bersenjata, Kamboja secara resmi menyatakan kesiapannya untuk kembali duduk di meja perundingan dengan Thailand

10 Desember 2025 – Setelah puluhan tahun ketegangan dan insiden bersenjata, Kamboja secara resmi menyatakan kesiapannya untuk kembali duduk di meja perundingan dengan Thailand

JAKARTA, koranmetro.com – 10 Desember 2025 – Setelah puluhan tahun ketegangan dan insiden bersenjata, Kamboja secara resmi menyatakan kesiapannya untuk kembali duduk di meja perundingan dengan Thailand guna menyelesaikan sengketa wilayah perbatasan yang paling kontroversial: kawasan Kuil Preah Vihear dan sekitarnya.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Perdana Menteri Kamboja Hun Manet dalam pidato kenegaraan pada 9 Desember 2025 di Phnom Penh. “Kami tidak ingin generasi mendatang mewarisi konflik ini. Kamboja siap berunding dengan Thailand secara konstruktif, berdasarkan hukum internasional dan semangat ASEAN,” ujar Hun Manet, putra sulung mantan PM Hun Sen yang kini memimpin negara tersebut.

Latar Belakang Konflik yang Panjang

Sengketa Preah Vihear bermula sejak tahun 1907 ketika Prancis (penjajah Kamboja saat itu) dan Siam (Thailand) menetapkan garis batas. Pada 1962, Mahkamah Internasional (ICJ) memutuskan bahwa kuil Hindu kuno Preah Vihear berada di wilayah Kamboja. Namun, Thailand tidak pernah sepenuhnya menerima putusan tersebut, terutama terkait lahan seluas sekitar 4,6 km² di sekitar kuil.

Baca Juga :  Parlemen Vietnam Resmi Pangkas Drastis Anggaran Sampai Kementerian

Ketegangan memuncak pada 2008–2011 ketika kedua negara sempat terlibat bentrokan bersenjata yang menewaskan puluhan prajurit dan warga sipil. Pada 2013, ICJ kembali mengeluarkan putusan yang memperkuat kedaulatan Kamboja atas kawasan tersebut, namun implementasinya masih menjadi perdebatan.

Sinyal Positif dari Bangkok

Pernyataan Kamboja langsung mendapat respons positif dari Bangkok. Pada 10 Desember 2025, Menteri Luar Negeri Thailand Maris Sangiampongsa menyatakan bahwa pemerintahannya “menyambut baik” inisiatif Kamboja dan siap membuka dialog bilateral. “Kami percaya bahwa dialog adalah jalan terbaik untuk menyelesaikan perbedaan demi kesejahteraan rakyat kedua negara,” kata Maris.

Langkah ini juga didukung oleh Sekretariat ASEAN yang sejak lama mendorong kedua negara untuk menyelesaikan sengketa secara damai. Sekjen ASEAN Kao Kim Hourn menyatakan, “Perdamaian di perbatasan akan menjadi contoh positif bagi stabilitas kawasan.”

Harapan dan Tantangan ke Depan

Para pengamat menilai inisiatif ini merupakan momen langka karena terjadi di tengah pemerintahan baru di kedua negara yang relatif stabil. Hun Manet baru menjabat sejak Agustus 2023, sementara Perdana Menteri Thailand Paetongtarn Shinawatra baru dilantik pada Agustus 2024.

Baca Juga :  China Selidiki Menteri Pertahanan Dong Jun atas Dugaan Korupsi

Meski demikian, tantangan tetap ada. Kelompok nasionalis di kedua negara sering kali memanfaatkan isu Preah Vihear untuk kepentingan politik domestik. Selain itu, kedua pihak masih berbeda pendapat tentang batas darat yang belum dipetakan secara lengkap.

Menuju Solusi Win-Win

Jika perundingan berhasil, kawasan Preah Vihear berpotensi menjadi destinasi wisata bersama yang dikelola secara bersama-sama, mirip dengan model yang diterapkan di kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru di Indonesia. Hal ini akan membuka peluang ekonomi baru bagi warga perbatasan yang selama ini terdampak ketegangan.

Dengan semangat “ASEAN Way” yang menekankan dialog dan konsensus, banyak pihak optimistis bahwa 2026 bisa menjadi tahun bersejarah bagi perdamaian Kamboja-Thailand. Seperti yang dikatakan seorang warga perbatasan di Siem Reap, “Kami sudah cukup lelah dengan senjata. Kami ingin anak-anak kami bisa bebas bermain di ladang tanpa takut.”

Berita Terkait

Ancaman “Zaman Batu” Trump Terwujud, AS Hancurkan Jembatan B1 Iran, Eskalasi Konflik Semakin Mengkhawatirkan
Ancaman dari Laut, Kapal Serbu Amfibi AS dan Spekulasi Operasi Darat terhadap Iran
Arab Saudi di Ambang Eskalasi, Kesabaran Riyadh terhadap Iran Semakin Tipis, Siap Terlibat Perang?
Bomber B-52 AS Kirim Sinyal Darurat Setelah Terbang Hanya 18 Menit
Ketegangan di Karibia, Kuba Siaga Hadapi Ancaman AS, Rusia Terancam Kerugian Besar Akibat Konflik Iran
Iran Rayakan Idul Fitri di Tengah Bayang-Bayang Konflik Berkepanjangan
Rencana Gulingkan Teheran yang Berbalik Menghantam Washington, Boomerang Geopolitik di Tengah Konflik AS-Iran
Air sebagai Senjata Diam, Penyulingan Air Laut Jadi Target Utama dalam Konflik Timur Tengah
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 31 Maret 2026 - 11:24 WIB

Ancaman dari Laut, Kapal Serbu Amfibi AS dan Spekulasi Operasi Darat terhadap Iran

Sabtu, 28 Maret 2026 - 11:16 WIB

Arab Saudi di Ambang Eskalasi, Kesabaran Riyadh terhadap Iran Semakin Tipis, Siap Terlibat Perang?

Rabu, 25 Maret 2026 - 11:16 WIB

Bomber B-52 AS Kirim Sinyal Darurat Setelah Terbang Hanya 18 Menit

Selasa, 24 Maret 2026 - 11:21 WIB

Ketegangan di Karibia, Kuba Siaga Hadapi Ancaman AS, Rusia Terancam Kerugian Besar Akibat Konflik Iran

Sabtu, 21 Maret 2026 - 11:40 WIB

Iran Rayakan Idul Fitri di Tengah Bayang-Bayang Konflik Berkepanjangan

Berita Terbaru

Tenun Nusantara, warisan budaya yang kaya motif dan filosofi, kini semakin dekat dengan generasi muda berkat upaya Cita Tenun Indonesia (CTI).

LIFE STYLE & ENTERTAINMENT

Menenun Masa Depan, Cita Tenun Indonesia Hadirkan Wastra Nusantara ke Generasi Muda

Minggu, 5 Apr 2026 - 11:11 WIB