Saddam Hussein, Pemimpin Irak yang Kejam dan Akhir Tragisnya

- Jurnalis

Selasa, 4 Maret 2025 - 18:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA, koranmetro.com – Saddam Hussein adalah salah satu pemimpin dunia yang paling kontroversial. Ia dikenal sebagai diktator Irak yang berkuasa selama lebih dari dua dekade dan terkenal dengan pemerintahan otoriternya. Meski pernah dipuji karena pembangunan ekonomi dan modernisasi Irak, kebijakannya yang keras serta keterlibatannya dalam berbagai konflik militer membuatnya dicap sebagai pemimpin kejam. Nasibnya pun berakhir tragis setelah ditangkap dan dieksekusi.

Kebangkitan Saddam Hussein ke Puncak Kekuasaan

Saddam Hussein lahir pada 28 April 1937 di Al-Awja, Irak. Ia bergabung dengan Partai Ba’ath yang memiliki ideologi nasionalis Arab dan perlahan naik ke jajaran elit politik Irak. Pada tahun 1968, Partai Ba’ath berhasil melakukan kudeta terhadap pemerintahan Presiden Abdul Rahman Arif, yang kemudian membuka jalan bagi Saddam untuk berkuasa.

Pada 16 Juli 1979, Saddam resmi menjadi Presiden Irak, menggantikan Ahmad Hassan al-Bakr. Setelah berkuasa, ia mulai menyingkirkan lawan-lawan politiknya dengan eksekusi massal dan memperkuat cengkeraman kekuasaannya melalui militer dan aparat keamanan.

Kebrutalan Rezim Saddam Hussein

Saddam Hussein menjalankan pemerintahan dengan tangan besi, yang ditandai dengan:

Baca Juga :  Jepang Denda Dewi Soekarno Rp 3 Miliar Usai PHK 2 Pegawai Saat Pandemi Covid-19

1. Pembantaian Lawan Politik

Tak lama setelah berkuasa, Saddam melakukan pembersihan terhadap pejabat-pejabat yang dianggap berpotensi mengancam posisinya. Puluhan tokoh politik dan militer tewas dalam eksekusi brutal yang diperintahkan langsung olehnya.

2. Perang Irak-Iran (1980-1988)

Pada tahun 1980, Saddam memerintahkan invasi ke Iran dengan harapan memperluas wilayah Irak dan melemahkan Revolusi Islam Iran yang dipimpin Ayatollah Khomeini. Namun, perang ini berlangsung hingga 8 tahun dan berakhir tanpa kemenangan nyata, dengan korban mencapai lebih dari 1 juta jiwa di kedua belah pihak.

3. Pembantaian Suku Kurdi (1988)

Salah satu kejahatan terburuk di era Saddam adalah pembantaian suku Kurdi di Halabja pada tahun 1988. Dalam Operasi Anfal, pasukan Irak menggunakan gas beracun yang membunuh sekitar 5.000 warga sipil Kurdi.

4. Invasi Kuwait dan Perang Teluk (1990-1991)

Pada tahun 1990, Saddam memerintahkan invasi ke Kuwait, yang kemudian memicu Perang Teluk setelah Amerika Serikat dan sekutunya turun tangan. Irak akhirnya dipukul mundur dalam operasi militer yang dipimpin oleh AS, yang menyebabkan sanksi ekonomi berat terhadap negara tersebut.

Baca Juga :  AS Siap Mendukung Indonesia Menjadi Anggota OECD

5. Rezim Otoriter dan Penindasan Internal

Saddam mempertahankan kekuasaannya dengan menerapkan sensor ketat, pembunuhan terhadap lawan politik, serta penyiksaan brutal di penjara-penjara rahasia.

Keputusan Fatal dan Akhir Tragis Saddam Hussein

Pada tahun 2003, Amerika Serikat di bawah pemerintahan Presiden George W. Bush melancarkan invasi ke Irak dengan alasan bahwa Saddam memiliki senjata pemusnah massal (WMD). Saddam akhirnya ditangkap pada 13 Desember 2003 dalam operasi militer di Tikrit, setelah berbulan-bulan bersembunyi di sebuah bunker bawah tanah.

Setelah menjalani persidangan panjang, Saddam Hussein divonis hukuman mati atas kejahatan terhadap kemanusiaan, khususnya pembantaian warga desa Dujail tahun 1982. Ia dieksekusi dengan cara digantung pada 30 Desember 2006 di Baghdad.

Saddam Hussein adalah sosok pemimpin yang kuat namun dikenal dengan kebrutalan dan kekejamannya. Dari perang besar hingga penindasan rakyatnya sendiri, rezimnya penuh dengan darah dan penderitaan. Akhirnya, setelah puluhan tahun berkuasa, ia menghadapi nasib tragis dengan ditangkap, diadili, dan dihukum mati.

Kisah Saddam Hussein menjadi salah satu pelajaran sejarah tentang bagaimana kekuasaan absolut bisa berujung pada kehancuran.

Berita Terkait

Pemilu Sela AS 2026, Kontrol Kongres Jadi Taruhan Besar bagi Pemerintahan Trump
AS Setujui 500 Rudal Patriot untuk Ukraina, namun Pengiriman Masih Lama
Singapura Panggil Eksekutif Perusahaan Terkait Kabut Asap Karhutla, Dipimpin Tiga Menteri
Peringatan Intelijen AS, Ancaman terhadap Personel Amerika di Timur Tengah Meningkat
Dua Kerentanan Kritis PHP Ditemukan AI, Puluhan Persen Situs Dunia Ambil Langkah Darurat
Kerusuhan Melanda Perancis, Demo Biaya Hidup Berujung Penjarahan dan Kerusakan Massal
Serangan Rudal Houthi Hantam Istana Al-Maashiq di Aden, Lima Tewas dan 16 Luka-luka
Dua WNI Alami Luka Ringan dalam Serangan di Riyadh, KBRI Pastikan Kondisi Sudah Membaik
Berita ini 32 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 1 November 2026 - 11:08 WIB

AS Setujui 500 Rudal Patriot untuk Ukraina, namun Pengiriman Masih Lama

Kamis, 29 Oktober 2026 - 11:08 WIB

Singapura Panggil Eksekutif Perusahaan Terkait Kabut Asap Karhutla, Dipimpin Tiga Menteri

Minggu, 25 Oktober 2026 - 11:16 WIB

Peringatan Intelijen AS, Ancaman terhadap Personel Amerika di Timur Tengah Meningkat

Jumat, 23 Oktober 2026 - 11:09 WIB

Dua Kerentanan Kritis PHP Ditemukan AI, Puluhan Persen Situs Dunia Ambil Langkah Darurat

Senin, 19 Oktober 2026 - 11:08 WIB

Kerusuhan Melanda Perancis, Demo Biaya Hidup Berujung Penjarahan dan Kerusakan Massal

Berita Terbaru

Barcelona membuka musim 2026/2027 dengan rekor mencengangkan. Di bawah asuhan Hansi Flick, Blaugrana telah mencetak 60 gol dalam 15 pertandingan resmi pertama mereka.

Liga Spanyol

Barcelona Gila Gol, 60 Kali Jebol Gawang Lawan dalam 15 Laga

Jumat, 6 Nov 2026 - 11:05 WIB

Babak playoff MPL ID Season 18 dibuka dengan hasil mengejutkan. Pada hari pertama di Surabaya, Rabu (4/11/2026), dua nama besar langsung tersingkir.

TEKNOLOGI

Shock Playoff MPL ID S18, ONIC dan EVOS Gugur di Hari Pertama

Kamis, 5 Nov 2026 - 11:03 WIB