Ketegangan Diplomatik, Qatar dan AS Pasca-Serangan Israel di Doha

- Jurnalis

Rabu, 10 September 2025 - 13:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pada 9 September 2025, ketegangan diplomatik muncul antara Qatar dan Amerika Serikat menyusul serangan Israel yang menargetkan markas kepemimpinan Hamas di Doha,

Pada 9 September 2025, ketegangan diplomatik muncul antara Qatar dan Amerika Serikat menyusul serangan Israel yang menargetkan markas kepemimpinan Hamas di Doha,

JAKARTA, koranmetro.com – Pada 9 September 2025, ketegangan diplomatik muncul antara Qatar dan Amerika Serikat menyusul serangan Israel yang menargetkan markas kepemimpinan Hamas di Doha, ibu kota Qatar. Serangan ini, yang terjadi di tengah negosiasi gencatan senjata di Gaza, memicu kemarahan Qatar karena AS dianggap terlambat memberikan peringatan. Doha menegaskan bahwa pemberitahuan dari pejabat AS baru diterima saat ledakan sudah terjadi, menimbulkan pertanyaan tentang koordinasi dan kepercayaan antara sekutu.

Latar Belakang Serangan

Israel melancarkan serangan udara yang menargetkan pemimpin senior Hamas di Doha, yang disebut sebagai operasi “Summit of Fire” oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF). Menurut laporan, serangan ini bertujuan untuk menghabisi tokoh-tokoh kunci Hamas, termasuk Khalil al-Hayya, Zaher Jabarin, Muhammad Ismail Darwish, dan Khaled Mashal, yang sedang membahas proposal gencatan senjata AS di Gaza. Meskipun Hamas mengklaim seluruh pemimpinnya selamat, serangan tersebut menyebabkan enam korban jiwa, termasuk seorang anggota keamanan dalam negeri Qatar dan lima anggota Hamas, salah satunya putra Khalil al-Hayya.

Qatar, sebagai mediator utama dalam perundingan gencatan senjata antara Israel dan Hamas, menganggap serangan ini sebagai pelanggaran berat terhadap kedaulatannya. Serangan tersebut juga terjadi di wilayah yang strategis, dekat pangkalan militer AS Al-Udeid, menambah kompleksitas hubungan diplomatik.

Protes Qatar terhadap AS

Qatar dengan tegas mengutuk serangan Israel sebagai “penyerangan pengecut” dan “pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional.” Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari, menolak klaim bahwa Doha telah diberi peringatan sebelumnya oleh AS. Ia menegaskan bahwa komunikasi dari pejabat AS baru diterima “saat suara ledakan akibat serangan Israel terdengar di Doha.” Pernyataan ini bertentangan dengan klaim Gedung Putih bahwa Presiden Trump telah memerintahkan utusan AS, Steve Witkoff, untuk memberi tahu Qatar sebelum serangan.

Baca Juga :  Rusia Luncurkan Rudal Nuklir ke Ukraina, Apakah Era Perang Dingin Akan Kembali?

Ketidaksesuaian ini memicu kecaman dari Qatar, yang merasa dikhianati sebagai sekutu dekat AS. Qatar menyoroti bahwa serangan tersebut tidak hanya mengancam keamanan warganya, tetapi juga merusak peran Doha sebagai mediator netral dalam konflik Israel-Hamas. Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, menyebut serangan ini sebagai tindakan “pengkhianatan,” terutama karena dilakukan saat Hamas sedang mengevaluasi proposal gencatan senjata.

Reaksi AS dan Ketegangan Diplomatik

Pemerintahan Trump menyatakan ketidakpuasan terhadap serangan Israel tersebut. Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa “pengeboman sepihak di Qatar, negara sekutu AS yang bekerja keras untuk memediasi perdamaian, tidak memajukan tujuan Israel atau Amerika.” Presiden Trump sendiri, melalui Truth Social, menegaskan bahwa keputusan serangan adalah murni inisiatif Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, bukan keputusan AS. Ia juga menyatakan rasa “tidak senang” dan memastikan bahwa serangan serupa tidak akan terulang di wilayah Qatar.

Namun, pernyataan bahwa AS mengetahui serangan tersebut melalui militer AS sesaat sebelum atau saat serangan berlangsung menimbulkan keraguan tentang transparansi Israel kepada sekutunya. Beberapa laporan menyebutkan bahwa militer AS mendeteksi jet tempur Israel menuju Teluk Persia dan baru meminta informasi saat bom sudah diluncurkan. Hal ini menambah persepsi bahwa AS tidak memiliki kendali penuh atas tindakan Israel, yang mendapat dukungan militer besar-besaran dari Washington.

Baca Juga :  Eksekusi Pemimpin Penipuan Besar di Iran, Kerugian $350 Juta yang Hancurkan Ribuan Warga

Implikasi untuk Mediasi dan Hubungan Regional

Serangan ini berpotensi mengguncang peran Qatar sebagai mediator dalam konflik Gaza. Qatar telah lama menjadi tuan rumah bagi kepemimpinan politik Hamas dan menyalurkan dana untuk administrasi Gaza, dengan persetujuan AS dan Israel. Namun, serangan ini dapat melemahkan posisi Doha sebagai pihak netral, terutama setelah Hamas menuduh AS turut bertanggung jawab atas serangan karena dukungan militernya kepada Israel.

Lebih lanjut, insiden ini menambah ketegangan di Timur Tengah yang sudah memanas. Negara-negara seperti Prancis dan Inggris juga mengutuk serangan tersebut, sementara di AS, tanggapan terbagi antara dukungan terhadap Israel dari beberapa anggota Partai Republik dan kekhawatiran dari Partai Demokrat tentang eskalasi konflik. Serangan ini juga membahayakan negosiasi gencatan senjata dan nasib sandera yang tersisa di Gaza, yang menjadi prioritas utama pemerintahan Trump.

Serangan Israel di Doha pada 9 September 2025 telah menciptakan ketegangan diplomatik antara Qatar dan AS, dengan Doha memprotes keterlambatan pemberitahuan AS tentang serangan tersebut. Insiden ini tidak hanya menyoroti tantangan dalam koordinasi antara sekutu, tetapi juga mengancam upaya mediasi Qatar dalam konflik Israel-Hamas. Dengan Qatar menegaskan komitmennya untuk melanjutkan peran sebagai mediator, dan AS berjanji mencegah serangan serupa di masa depan, hubungan diplomatik di kawasan ini akan terus diuji. Kejadian ini menggarisbawahi perlunya komunikasi yang lebih transparan dan koordinasi yang lebih baik untuk menjaga stabilitas regional dan kepercayaan antar sekutu.

Berita Terkait

Trump, Perang dengan Iran Hampir Berakhir, Amerika Siap Kembali ke Meja Perundingan
Paus Leo XIV Tegaskan Sikap Antiperang, Trump, Saya Tidak Peduli
Penampilan Pertama Mojtaba Khamenei Pasca Gencatan Senjata: Klaim Kemenangan Iran atas Israel
Di Balik Gemuruh Pertempuran, Perang Sunyi yang Sering Menjadi Penentu Kemenangan
Ancaman “Zaman Batu” Trump Terwujud, AS Hancurkan Jembatan B1 Iran, Eskalasi Konflik Semakin Mengkhawatirkan
Ancaman dari Laut, Kapal Serbu Amfibi AS dan Spekulasi Operasi Darat terhadap Iran
Arab Saudi di Ambang Eskalasi, Kesabaran Riyadh terhadap Iran Semakin Tipis, Siap Terlibat Perang?
Bomber B-52 AS Kirim Sinyal Darurat Setelah Terbang Hanya 18 Menit
Berita ini 32 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 15 April 2026 - 12:56 WIB

Trump, Perang dengan Iran Hampir Berakhir, Amerika Siap Kembali ke Meja Perundingan

Senin, 13 April 2026 - 12:37 WIB

Paus Leo XIV Tegaskan Sikap Antiperang, Trump, Saya Tidak Peduli

Jumat, 10 April 2026 - 11:15 WIB

Penampilan Pertama Mojtaba Khamenei Pasca Gencatan Senjata: Klaim Kemenangan Iran atas Israel

Selasa, 7 April 2026 - 11:14 WIB

Di Balik Gemuruh Pertempuran, Perang Sunyi yang Sering Menjadi Penentu Kemenangan

Jumat, 3 April 2026 - 11:16 WIB

Ancaman “Zaman Batu” Trump Terwujud, AS Hancurkan Jembatan B1 Iran, Eskalasi Konflik Semakin Mengkhawatirkan

Berita Terbaru

Paus Leo XIV kembali menjadi sorotan dunia internasional setelah secara konsisten menyampaikan pesan-pesan damai dan antiperang di tengah berbagai konflik global yang sedang berlangsung.

INTERNASIONAL

Paus Leo XIV Tegaskan Sikap Antiperang, Trump, Saya Tidak Peduli

Senin, 13 Apr 2026 - 12:37 WIB